Berbicaralah tentang dakwah kerana itu lebih kekal, sedangkan manusia akan musnah. Allah adalah tujuan kami Rasulullah teladan kami Al Qur'an pedoman hidup kami Jihad adalah jalan juang kami Mati di jalan Allah adalah cita-cita kami tertinggi
Monday, February 16, 2009
DI ALQUDS , BATU-BATU TELAH BERBICARA
Melintaslah diatas sahara hatiku untuk menumbuhkan harapan
Semoga buni menjadi hijau dan menyala di bawah langkah-langkah kalian
Serta rasa takut pun pergi menghilang
Melintaslah, dan yang paling kecil di antara kalian adalah pahlawan
Melintaslah dengan langkah-langkah yang memancarkan mata air kehidupan
Hingg kita sampai pada kesempurnaan kematian
Kini Alquds hanya di jaga oleh anak kecil
Padahal Alquds adalah bumi para nabi
Alquds adalah impian para penyair
Dan Alquds adalah roti dan rembulan
Di Alquds batu-batu telah berujar
Tidak perlu seminar dan muktamar.. Tidak perlu seminar dan muktamar
Aku tidak menginginkan kecuali hanya UMAR
(2)
Pukullah karena hati-hati ini telah membatu serta tidak akan mempan
kecuali hanya dengan batu
Pukullah, karena dari kedua telapak tanganmu akan deras memancar air hujan
Di ”Khan Yunus” dan di ”Bilathah” serta di lembah dan perkotaan, Telah
berlalu masa ketakutan...
Yang telah membuahkan kobaran semangat dan kesadaran
Di masjid-masjid kami, di kalangan pemuda-pemuda ”Alanfal”, ”AsSyura”
dan ”Luqman” serta penghafal ”AzZumar”
Dari Ahmad Yasin bertolak berbagai instruksi dan pelajaran
Di Masjid AlAqsha dan AlUmari batu-batu telah berbicara :
”Amat buruklah wajah-wajah Yahudi Bani Nadzir...mereka telah
berdesak-desakan menuju liang kebinasaan
Amat buruklah wajah-wajah kaum oportunis..dan para penyembah manusia
Pukullah...karena hanya untuk Gaza bulan menjadi purnama
Pukullah... karena hanya untuk Nablus semua nyanyian dan keindahan
Pukullah..karena setelah hari ini tidak akan ada lagi ketundukan
Tidak..tidak akan ada seminar dan muktamar
Inilah jalan Alquds yang melintasi tulang belulangku
Akulah darah yang mengalir deras bagai anak sungai
Kilat-kilatpun redup saat menatap jidatku yang cemerlang
Akulah orang yang tulang-tulang iganya patah..sehingga tampak putih
menembus kulit bangsa Arab
Akulah orang yang desanya hancur..dan menyemburkan api yang berkobar
Akulah orang yang di cintai oleh bebatuan
Saudara-saudaraku melemparkan aku dalam sumur tanpa sedikitpun
meninggalkan jejak
Wahai orang-orang yang murtad, para calo dan penipu, tempat kembali
kalian adalah neraka Saqar
Di Alquds batu-batu telah berujar
Tidak perlu seminar dan muktamar.. Tidak perlu seminar dan muktamar
Aku tidak menginginkan kecuali hanya UMAR
Aku tidak menginginkan kecuali hanya UMAR
(3)
Komandan yang kerdil, Dajjal dan penabuh gendang
Intel, pendusta dan calo
Dalam kegalapan langit, mereka telah membicarakan pasal-pasal
pembantaian sadis dengan penuh kerahasiaan
Mereka telah menyerang mata-mata buah Zaitunku.... .untuk memetik
bunga-bunga syuhada’
Mereka datang bagai Abrahah dengan wajah hitam yang menampakkan kebodohan
Zaman ini telah di tentukan, kalian tidak akan pernah lagi bisa mencuri
panji-panji ini dariku
Di tangan kananku panji-panji sahabat akan tetap berkibar
Demi Alquds hidangan para syuhada’
Alquds bumi para anbiya’
Alquds impian para syuhada’
Alquds roti dan rembulan
Aku tidak menginginkan kecuali hanya UMAR
(4)
Kalian tidak akan bisa lagi mencuri darah kami dan impian yang sedang
merekah
Anak-anak kami telah tumbuh besar, dan lantang teriakan mereka bagai
suara gempa
”Allahu Akbar” sedang merambah relung-relung nurani bangsa dan mendorong
mereka berperang
”Allahu Akbar” semua thaghut dan Fir’aun terjungkal tumbang
”Allahu Akbar” telah di teriakkan oleh anak-anak yatim, orang-orang
lapar dan ibu-ibu yang kehilangan anaknya
Islam telah memenuhi hati kam, sehingga kami bisa kembali menjadi
singa-singa pertama
Inilah janggut-janggut kami, mushaf-mushaf kami, dan kebaikan akhlak kami
Mereka telah membelenggu kami dengan borgol rantai
Mereka telah menjadi mata-mata musuhdi setiap perbatasan dan pesisir
Dari telapak tanganku tertulis sejarah yang bertaburan pelita
Karena batu-batuk telah merobek dan menyingkap aurat bangsa-bangsa
Karena batu-batuku telah merobek papan-papan catur..dan mengabaikan
rantai-rantai borgol
Karena mereka telah menghancurkan tulang-tulang kami dan merusak semua
persendian kami
Aku akan mengembalikan kejayaan Babilon
Dan Alquds bumi para nabi
Dan AlQuds impian para penyair
Dan Alquds adalah roti dan rembulan
Di Alquds batu-batu telah berujar
Tidak perlu seminar dan muktamar.. Tidak perlu seminar dan muktamar
Aku tidak menginginkan kecuali hanya UMAR
Aku tidak menginginkan kecuali hanya UMAR
(5)
Telah berguguran panji-panji Fir’aun kecil
Corenglah wajah para pencoleng dengan silang dari kanan dan kiri
Dari janggut para syuhada’ memencar cahaya siang bagi umatku
Untuk para syaih dibumi yang damai ini
Dan Alquds sumber kemuliaan dan kebanggaan
Alquds bumi para nabi
AlQuds impian para penyair
Alquds adalah roti dan rembulan
Di Alquds batu-batu telah berujar
Tidak perlu seminar dan muktamar.. Tidak perlu seminar dan muktamar
Aku tidak menginginkan kecuali hanya UMAR
Aku tidak menginginkan kecuali hanya UMAR
(6)
Mereka telah tertunduk hingga tidak ada kafilah yang mau berjihad
Janganlah kalian menelan makanan meski dari emas
Dan Batu-batu neraka Sijjil yang menjadi lambang kemurkaan
Apakah setiap kali bercahaya sebuah bintang di ufuk langitku
Pasukan-pasukan Abu Lahab selalu datang untuk memadamkannya
Untukmu wahai kekasih hati, jiwa dan perasaanku
Denganmu Allah yang Maha Agung telah menghantam Bani Quraidhah dan
Bangsa Arab
Engkau telah meninggikan panji-panji jihad tanpa pernah mengenal lelah
Alquds adalah api yang berkobar
Dan Alquds bumi para nabi
Dan AlQuds impian para penyair
Dan Alquds adalah roti dan rembulan
Di Alquds batu-batu telah berujar
Tidak perlu seminar dan muktamar.. Tidak perlu seminar dan muktamar
Aku tidak menginginkan kecuali hanya UMAR
Aku tidak menginginkan kecuali hanya UMAR
(7)
Matahari berjalan di sela-sela jemari anak-anak yang menarik
ketapel..memberi kita kemerdekaan
Di Jidat barak-barak kemuliaan kami menorehkan kemenangan Qadisiyah
Di saat rumahku hancur, aku melihat sebuah pesan di bawah puing-puing
dinding
Ini adalah bencana yang paling mahal
Di dadaku masih tersisa puing-puing ukhuwwah
Dimanakah rudal-rudal? Dimanakah granat-granat bangsa Arab? Dimanakah
kedermawanan dan kemurahan? Dimanakah jiwa-jiwa Bani Hasyim?
Dimanakah meriam-meriam? Dimanakah armada dan pasukan Bani Ummayah?
Dimanakah sungai Eufrat? Dimanakah sungai Nil kalian, wahai para
pelndung kami yang gagah perkasa?
Bahkan di manakah Harun AlRasyid, Muhammad AlFatih yang akan
mengembalikan kemuliaan padaku?
Aku tidak menginginkan kendaraan, aku menginginkan senapan
Wahai umat islam, aku menginginkan senapan
Dan Alquds, sungguh sangat memalukan kini telah menjadi santapan
Alquds bumi para nabi
AlQuds impian para penyair
Alquds adalah roti dan rembulan
Di Alquds batu-batu telah berujar
Tidak perlu seminar dan muktamar.. Tidak perlu seminar dan muktamar
Aku tidak menginginkan kecuali hanya UMAR
Aku tidak menginginkan kecuali hanya UMAR
(8)
Wahai para pemimpin, beri aku senjata
Wahai para pemimpin, pertolongan Allah telah tiba
Wahai para pemimpin, kalian telah lemah karena luka-luka
Wahai para pemimpin, beri aku Shalahuddin
Shalahuddin telah di tikam dari belakang
Shalahuddin terus menerus dalam penawanan
Shalahuddin telah mereka jual untuk muktamar
Alquds bagai samudra
Yang datang bersama fajar
Alquds bumi para nabi
AlQuds impian para penyair
Alquds adalah roti dan rembulan
Di Alquds batu-batu telah berujar
Tidak perlu seminar dan muktamar.. Tidak perlu seminar dan muktamar
Aku tidak menginginkan kecuali hanya UMAR
Aku tidak menginginkan kecuali hanya UMAR
(9)
Apakah kalian bangsa Arab? Yang meminta perlindungan kepada bencana..Dan
selalu kalah dalam peperangan
Tujuh puluh tahun semuanya itu adalah kebohongan
Penjara dan pembantaian serta sama sekali bukan peperangan
Mereka telah membantai kaum wanita sedang kalian diam bagai kayu papan
Mereka telah menghancurkan rumah-rumah, sedang pesta ria selalu
menghiasi malam hari kalian
Apakah kalian bangsa arab ? Sangkakala telah di tiupkan sehinga
kehancuran pun bergerak sedang kalian sedikitpun tidak bergerak
Alquds adalah liang kubur yang kini di landasi kelelahan
Alquds adalah nyanyian yang di dadanya tersimpan kerusakan
Alquds adalah roti dan rembulan
Di Alquds batu-batu telah berujar
”Wahai orang islam, wahai yang menegakkan shalat, wahai yang
melaksanakan puasa
Pukullah, tidak ada pilihan bagimu selain melempar
Pukullah bangsa yahudi dan kamu tidak akan pernah terkalahkan
Ini tanganku, jadikanlah bom
Ini anak-anak kami bagai gempa yang dahsyat
Ini langkah awal kami dan ini bismillah
Wahai Alquds engkau adalah adalah pemenggal kepala
Dari awal dunia engkau selalu menjadi pelita bagi kami
Wahai Alquds engkau adalah keagungan
Alquds impian para penyair
Alquds kecintaan para syuhada’
Alquds rembulan bagi dunia
Di Alquds batu-batu telah berujar
Tidak perlu seminar dan muktamar.. Tidak perlu seminar dan muktamar
Aku tidak menginginkan kecuali hanya UMAR
Aku tidak menginginkan kecuali hanya UMAR
Aku tidak menginginkan kecuali hanya UMAR
Batam, 31 Des 08 - 01 Jan 09
/Ditulis ulang oleh H.Ahmad Saikhudin dari Buku “Silsilah Idarah
Dzati/Seni Menghadapi Publik”- DR Akrim Ridla Penerbit Syamil Hal.37-43
/
Wasiat Rasulullah kepada Muaz
kuwasiati agar
bertakwa kepada Allah,
berbicara yang benar,
teguh memegang janji,
menyampaikan amanat,
meninggalkan khianat,
mengasihi anak yatim,
menjaga tetangga,
menahan amarah,
berbicara lembut,
memberi salam,
setia pada imam,
memahami al-Quran,
menyukai akhirat,
memprihatinkan hisab,
memendekkan angan-angan,
dan beramal baik.
Serta aku larang engkau
memaki orang Islam,
membenarkan orang dusta,
mendustakan orang benar,
menderhaka imam adil,
dan membuat kerosakan di muka bumi."
Badi' az-Zaman Sa'id alNursi
Dunia ini adalah perladangan. Oleh itu bercucuk tanamlah dan tuailah hasilnya. Jangan dibiarkan ia dipenuhi semak dan duri dan kekotoran.
ANDAINYA AKU PERGI
andainya mentari pagi
tidak akan dapat kutatapi
memang itu janjiMu Ya Ilahi
tiap yang hidup pastikan mati.
Tiada apa yang dapat kubekali
hanya amal ibadat duduk di sisi
harta benda tidak bererti
itu semua hiburan seketika
pasti ianya lenyap jua.
Aku tidak mahu ditangisi
andainya aku pergi
tetapi yang aku idami
ampun maaf semua sekali
doa untukku usah dilupai
agar terampun dosa yang kulakui.
Hayati Yahaya
Cantiknya kerana iman dan taqwa,
Izinkan daku menjadi sekuntum bunga,
Yang dihiasi dengan kelopak akhlaq mulia,
Harum wanginya dengan ilmu agama,
Cantiknya kerana iman dan taqwa,
Namun keindahan zahirnya ku simpan rapi,
Biar menjadi rahsia yang kekal abadi,
Bukan perhatian mata ajnabi,
Yang menjadi punca fitnah hati,
Ya Allah,
Timbulkanlah duri yang memagari diri,
Agar diriku terpelihara dari noda duniawi,
Yang akan menghilangkan keharuman sejati,
Yang akan memudarkan kecantikan diri,
Disebalik kekurangan yang tercipta,
Bukanlah alasan untuk bermuram durja,
Kerana setiap yang tercipta ada hikmahnya,
Izinkan ya Allah agarku menjadi permata,
Tetap menyinar walau di lumpur hina,
Tetap berharga walau dimana saja,
Buat ummah dan juga keluarga,
Izinkan daku menjadi seindah mawar berduri,
Yang menjadi impian setiap muslimah,
Yang indahnya bukan untuk lelaki,
Tapi permata buat yang bernama suami...
http://nurulfarienaasli87.blogspot.com/
Mengenali Syeikh Abbas Asisi: Penyeru Cinta Dakwah
Thursday, January 22, 2009
Pada tanggal 8 Ramadhan tahun 1425 H bertepatan dengan tanggal 22 Oktober 2004 dakwah Islam telah mengakar di Mesir, Syeikh Abbas As-sisi –rahimahullah- salah seorang tokoh pada tahun 30 an, pemilik institusi khusus dakwah yang dikenali dengan sekolah penuh cinta kerana pemiliknya terkenal dan masyhur dengan seorang yang penuh cinta, murah senyum, hati yang lapang dan terbuka. Beliau merupakan salah seorang dari sekian banyak orang yang tidak pernah kering dengan ideologinya dan amat teguh dalam dakwahnya walau dengan cubaan dan ujian yang berat yang menimpa dakwah di Mesir, bahkan beliau menerimanya dengan penuh cinta, syiar beliau yang paling terkesan adalah “Dakwah kepada Allah adalah cinta” dan bahkan syiar tersebut menjadi judul buku pada sekolah dakwah, dan dikenal oleh banyak generasi bahawa dakwah adalah cinta dan bahawasanya dakwah Islam tidak mengenal kekerasan.
Tentunya tidak asing bahawa beliau memiliki banyak pengikut -25 ribu atau lebih- dari pemuda yang mencintai beliau dan menimba ilmu dan pembinaan di sekolahnya, mendapatkan konsep-konsep tarbiyah yang dianggap telah usang dan konsep-konsep tarbiyahnya yang telah hilang dari banyak generasi di masa awal setelah mereka ditempa tarbiyah ala militer dan nilai-nilai keperajuritan yang keras, yang telah menghabiskan masa muda mereka di balik jeruji besi dan berkunci rapi; sehingga memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap manhaj dakwah ketika berhadapan dengan ujian dan siksaan.
Adapun beliau setelah keluar dari penjara seperti seorang yang lebih muda dari para pemuda lainnya; banyak senyum dan toleran walaupun terhadap musuhnya, dan melalui tangan beliau yang halus dakwah Islam bergerak, khususnya di tengah para pemuda “Jamaah Islam” di beberapa universiti di Mesir, metode dan sekolah beliau menjadi sebab bergabung dan bersatunya -terutama jamaah al-ikhwan al-muslimun pada tahun 70 an-, para ulama seperti Ibrahim Az-Za’farani dan Khalid Daud di Alexandria, Abdul Mun’im Abdul Futuh dan Hilmi Al-Jazar di Kaherah, dan Abu al-Ala Madhi di pedesaan.
Guru para pemuda tentang cinta dan perasaan
Abbas As-sisi merupakan sosok penghubung yang lembut dengan para pemuda terutama saat pecah gerakan kebangkitan Islam pada tahun 70 an yang memiliki pengaruh sangat besar dari terhindarnya para pemuda pada garis keras dengan manhaj dan metode dalam berdakwah kepada Allah yang bijak bijak.
Abbas As-sisi juga memiliki pengaruh yang besar dalam meluruskan etika dan perilaku Islam khususnya di Kota Alexandria -sebagai salah satu pusat kebangkitan yang menjadi medan dakwah yang luas-, mungkin hanya sedikit dari para da’i yang menerapkan kaidah ini dalam perilaku dan interaksi hingga dapat memberikan kelembutan di antara para pemuda dengan dai penyeru perasaan; kerana begitu banyak yang dibicarakan dan ditulis serta dimotivasi sehingga memiliki hubungan dengan beliau.
Abbas As-sisi (1918-2004) merupakan salah seorang da’i generasi awal dalam harakah Islam yang gigih dalam berkomunikasi dengan para pemuda dan memfokuskan dakwah kepada mereka, berinteraksi dengan mereka selama beberapa tahun antara kemajuan dan kemunduran. Beliau memiliki banyak pelajaran yang mampu memberikan pengaruh pada setiap tingkatan. Beliau juga telah menyaksikan kemajuan dakwah Islam pada kurun waktu tahun 80 an yang merambah ke dalam berbagai universiti di seluruh pelusuk
Begitupun muhadhoroh-muhadhoroh beliau di kota Alexandria setelah dimulainya gerakan pengikisan di berbagai universiti Mesir, dan setelah terjadi benturan antara gerakan dan kekuasaan yang berakibatk pada tersosialisasikannya persatuan pelajar, lembaga sosial dan aktiviti di masjid-masjid, memberikan pengaruh besar dalam menenangkan jiwa yang bergolak dan menghilangkan sikap ekstrim, setelah adanya pertemuan dalam muhadhoroh saat itu.
Beliau tidak pernah meremehkan undangan para pemuda untuk berjumpa dengannya, kerana beliau memang gigih dalam menanamkan ruh cinta dan ukhuwah diantara mereka, sebagaimana beliau tidak pernah melewatkan waktu sedikitpun untuk berkunjung, beliau berkata :
“Saya pernah diundang untuk ziarah pada sekumpulan pemuda, dan memakan waktu perjalanan selama 3 jam ! dan ketika tiba, saya dapati mereka telah menyambut saya sambil duduk! Mereka diam seperti batu, perasaan mereka seakan kosong, mata mereka seakan mati, akhirnya salah seorang yang tertua dari mereka menghampiri saya lalu saya sampaikan kepada mereka dengan tanpa perasaan dan ruh. Setelah selesai berbicara mereka berterimakasih kepada saya dan saat saya keluar seakan saya berta’ziyah pada orang yang meninggal!! Lalu saya kembali dengan sedih terhadap apa yang saya saksikan dan lihat!!
Waktupun berjalan; hari demi hari, minggu demi minggu, datang kepada saya salah seorang akh yang mengundang saya sebelumnya, datang mengundang sekali lagi untuk mengunjungi mereka.
Saya katakan kepadanya: Kemana?
Dia berkata: kepada Ihkwah.
Saya katakan kepadanya: apakah mereka ikhwah?
Dia berkata: Ya.
Saya berkata: Mustahil mereka dapat merasakan makna ukhuwah, bagaimana mereka seorang ikhwah…padahal datang kepada mereka seorang tamu, perjalanannya memakan waktu 3 jam, datang dengan penuh kerinduan yang membara, perasaan yang bergelora, dan jiwa yang lapang. Namun mereka menerimanya dengan perasaan yang lesu dan duka. Begitulah kehebatan tokoh ini begitu menghargai dan menghayati nikmat ukhwah dalam berjamaah.
http://tarbiyahpewaris.blogspot.com/2009/01/mengenali-syeikh-abbas-asisi-penyeru.html
Mengenang Pemergian Abbas Assisi
Jika Allah memuliakan sebahagian tempat atas lainnya. Maka untuk meraih tempat berkah tersebut kita mesti menziarahi ke sana. Selain itu Allah juga meninggikan darjat sebahagian waktu atas yang lainnya. Kita tunggu atau tidak, waktu tersebut akan melewati kita. Dan setelah itu terserah kita. Memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya atau bahkan bersikap tidak acuh dan seolah ia tidak ada.
Apapun sikap kita, Ramadhan telah menemui kita. Ustaz Abbas pun mendapat sebuah kehormatan dipanggil Allah di bulan mulia ini. Meskipun mungkin selama Ramadhan beliau tidak melakukan apa-apa. Tapi bukankah ketika beliau sedar beliau menafkahkan seluruh hidupnya untuk kemaslahatan dakwah Islamiyah. Kerana itu tidak berlebihan seandainya 8 hari beliau di bulan ini dihitung dan dilipatgandakan oleh Allah. Dia lah yang Maha mengetahui. Maha Pengasih yang sangat luas cintanya.
Ustaz Abbas memang tidak sepopular Syeikh Yusuf al-Qaradawy yang buku-bukunya sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa.
Lelaki yang tamat usia pada tahun ke 86 ini mewaqafkan hidupnya untuk sebuah idealisme risalah dakwah. Semasa kecil beliau sangat mahir bermain bolasepak dengan lincah. Beliau bahkan mengaku tidak pernah membayangkan akan boleh menulis. Seperti yang diungkapkannya di mukaddimah Fi Qafilah al-Ikhwan al-Muslimin.
Buku setebal 855 halaman ini merupakan sebagian catatan perjalanan hidupnya. Pertemuannya dengan Hasan al-Banna, teman dan sekaligus gurunya yang mengajarkan kekuatan cinta. Beliau meresapi benar petua sang guru, "Perangilah manusia dengan (senjata) cinta."
Saya baru saja merancang untuk bertemu dengan beliau. Kerana lintasan berbagai peristiwa yang beliau rakam dengan goresan tinta benar-benar sarat pelajaran dan ibrah. Saya belum sempat menamatkannya. Kerana ingin perlahan-perlalan menelusuri sejarah beliau. Kisah yang sangat unik, menarik dan bukan fiktif.
Beliau adalah guru cinta bagi dakwah al-Ikhwan al-Muslimun (IM). Ceramah dan tulisan-tulisannya selalu ditargetkan buat membidik hati. Bukan sekadar menebar pesona dan simpati. Namun, kekuatan karisma, cinta dan rasa persaudaraan yang tinggi.
Beliau adalah "sisa-sisa" generasi awal IM yang melalui hari-hari pahit di balik jeriji dan berbagai intimidasi serta tuduhan stigma subversif. Kegigihannya tidak menjadikan gaya hidup beliau menjadi keras. Sebaliknya, lelaki berambut putih itu selalu menebar senyum untuk siapa saja. Dalam keadaan apa saja. Di mana saja. Jelas, keteduhan yang dalam akan nampak di wajahnya yang meski dimakan usia tapi tetap berseri menawarkan semangat hidup yang tidak pernah padam.
Lihat saja dalam tulisan-tulisannya, ath-Thariq ila al-Qulub (Jalan Menuju Hati), Da'wah ilallahi Hubb, al-Hubb fillah Risalah, adz-Dzauq Suluk ar-Ruh dan lain-lain. Bacalah bukan hanya dengan mata. Hati Anda benar-benar telah ditariknya.
Kegigihan dan keberaniannya tidak pernah diragukan. Beliau terlibat dalam perang dunia 1940 di Gurun Barat (Gharbea). Beberapakali mengalami penangkapan. Dan pada awal 80-an menjadi salah seorang perintis dakwah IM di luar negeri.
Saya sebenarnya kecewa. Tidak ada satu media pun yang memberitakan kepergiannya. Mengulas profilnya untuk diketahui perjuangannya dan dijadikan ruh perubahan. Sabtu, Ahad, Isnin pun berlalu. Tidak satu pun menyebut namanya. Sampai akhirnya saya menemuinya di Tabloid Mingguan Afaq Arabia. Tabloid parti pembangkang ini mengulas panjang profil beliau dan komentar tokoh-tokoh penting IM. Termasuk diantaranya, pimpinan spiritualnya, Syeikh Muhammad Mahdy 'Akif.
IM kehilangan salah satu tokoh pentingnya. Dan umat Islam juga merasakannya. Jasadnya memang tertanam dalam perut bumi. Namun, hatinya selalu hadir di tengah-tengah pada da'i, penerus hasratnya. Sebagaimana hasrat para pendahulunya.
Kini lelaki itu telah pergi. Menjumpai kekasihnya. Meninggalkan kefanaan yang kadang membuat terlena. Dan memasrahkan kebijaksanaan dakwah pada generasi setelahnya. Mahukah kita menyambut tongkat kebijaksanaan dakwah tersebut?
Saiful Bahri
Cairo, 20 Ramadan 1425

