Seorang penyair mengatakan:

Setiap penulis pasti akan mati dan berlalu
tetapi waktu akan mengabadikan apa yang ia tulis itu
maka janganlah menulis dengan tulisan tangan Anda
selain yang membuat Anda bergembira
pada Hari Kiamat ketika melihatnya.
Showing posts with label Mati Itu Perpindahan. Show all posts
Showing posts with label Mati Itu Perpindahan. Show all posts

Thursday, September 26, 2013

Kematian..


Kematian..
Pemutus segala kelazatan..
Lalu sendirian berdagang asing..
Menempuh tirai hijab yang tersingkap..

Kematian..
Saat memadu rindu buat yang soleh..
Meneguk janji di halaman raudhah..
Tenang dalam dakapan rahmat yang mencurah..

Kematian..
Liang penyesalan buat si derhaka..
Dibelenggu hirisan azab bersilih detik..
Hanya raungan mengiringi jalan ke mahsyar 

Kematian..
Jangan pernah dilupa akan hadirnya..
Kerana pabila ia datang menjengah..
Tak berguna seisi dunia melainkan amal..

SALAM KEINSAFAN...   SALAM MUHASABAH

Kematian..
Pemutus segala kelazatan..
Lalu sendirian berdagang asing..
Menempuh tirai hijab yang tersingkap..

Kematian..
Saat memadu rindu buat yang soleh..
Meneguk janji di halaman raudhah..
Tenang dalam dakapan rahmat yang mencurah..

Kematian..
Liang penyesalan buat si derhaka..
Dibelenggu hirisan azab bersilih detik..
Hanya raungan mengiringi jalan ke mahsyar

Kematian..
Jangan pernah dilupa akan hadirnya..
Kerana pabila ia datang menjengah..
Tak berguna seisi dunia melainkan amal..

Wednesday, January 11, 2012

Puisi Rehat Kita Hanya Bila Mati.


Kita letih,
Kita penat,
Rasa ingin menyisih,
rasa ingin berehat.

Kita kecewa,
kerja tidak menjadi,
kita terasa,
usaha seperti debu berterbangan pergi.

Tetapi kita memandang semula realiti,
apakah rehat yang kita mahukan itu rehat yang sebenar?
Atau sekadar ketidak hirauan kepada kebenaran,
dan menggapai rehat palsu yang mengkelabukan pandangan?

Berdiri kita di atas paksi hidup yang berjalan.
Semua bergerak dan kita ingin berehat?
Apakah keputusan kepada perjuangan?
Sedang panji kegelapan terus berkibaran.

Rehat kita hanya kala mati,
biar penat dan lelah menjadi pakaian,
biar keringat dan sakit menjadi tali pinggang,
asal kita mati dengan kemenangan,
atau di kala sedang berjuang,
agar nanti di kubur sudah bermula kerehatan,
kepada abadinya sebuah syurga penuh kenikmatan.

~ HilalAsyraf ~
1508
110112
Irbid,
Jordan.

Tuesday, July 13, 2010

USIA BERINSUT PERGI




















Usia yang ada
akan berinsut pergi
tanpa siapa dapat menghalangnya
untuk mendekatkan kita
kepada maut
yang bakal menjemput
tanpa dapat kita pastikan
waktunya yang sebenar
akan ketibaannya
untuk mermlengkapkan diri
kita pasti
mengerjakan yang diredhai Ilahi
dan meninggalkan
perkara yang tak diredhai Ilahi
supaya kita
beroleh kejayaan
di dunia
dan di akhirat

A.WAHAB DANGI

Tuesday, September 8, 2009

Bayangkanlah apa yang akan terjadi jika esok mereka "orang-orang terkasih itu" tak lagi membuka matanya, untuk selamanya ... "

Pernahkah anda menatap orang-orang
yang anda sayang saat mereka sedang tidur?
Kalau belum, cubalah sekali saja menatap
mereka saat sedang tidur.

Saat itu yang tampak adalah ekspresi paling
wajar dan paling jujur dari seseorang.

Seorang artis yang ketika di panggung
begitu cantik dan gemerlap pun
akan tampak polos dan jauh
berbeza jika ia sedang tidur.

Orang paling kejam di dunia pun
jika ia sudah tidur tak akan tampak wajah bengisnya.

Perhatikanlah ayah anda
saat beliau sedang tidur.
Sedarilah, betapa badan yang dulu kuat
dan gagah itu kini semakin tua dan lemah,
betapa rambut-rambut putih
mulai menghiasi kepalanya,
betapa kerut merut mulai terpahat di wajahnya.
Orang inilah yang tiap hari bekerja keras
untuk kesejahteraan kita, anak-anaknya.
Orang inila h, rela melakukan apa saja asal
perut kita kenyang dan pendidikan kita lancar.

Sekarang, beralihlah. ...
Lihatlah ibu anda....
Hmm...kulitnya mulai keriput dan tangan
yang dulu halus membelai- belai
tubuh bayi kita itu kini kasar kerana
menempuhi kehidupan yang mencabar demi kita.
Orang inilah yang tiap hari
menguruskan keperluan kita.
Orang inilah yang paling rajin mengingatkan dan
membebeli kita semata- mata
kerana rasa kasih dan sayang,
dan sayangnya, itu sering kita salah ertikan.

Cubalah menatap wajah orang-orang
yang kita cintai..sayangi itu...
Ayah, Ibu, Suami,
Isteri, Kakak, Adik, Anak, Sahabat,
Semuanya...

Rasakanlah sensasi yang timbul sesudahnya.
Rasakanlah energi cinta yang mengalir
perlahan-lahan
saat menatap wajah mereka yang terlelap itu.
Rasakanlah getaran cinta yang mengalir
deras ketika mengingat betapa
banyaknya pengorbanan yang telah
dilakukan orang-orang itu untuk
kebahagiaan anda.
Pengorbanan yang kadang-kadang tertutupi
oleh salah faham kecil yang entah kenapa
selalu saja nampak besar.

Secara ajaib Tuhan mengatur agar
pengorbanan itu akan tampak lagi
melalui wajah-wajah jujur mereka
saat sedang tidur.
Pengorbanan yang kadang melelahkan
serta memenatkan mereka
namun enggan mereka ungkapkan.
Dan ekspresi wajah ketika tidur pun
membantu untuk mengungkap segalanya.
Tanpa kata, tanpa suara dia
berkata... "betapa lelahnya..penatnya aku hari ini".
Dan penyebab lelah dan penat itu?
Untuk siapa dia berpenat lelah
Tak lain adalah
KITA.....

Suami yang bekerja keras mencari nafkah,
isteri yang bekerja keras mengurus dan
mendidik anak, juga rumah.
Kakak, adik, anak, dan sahabat yang
telah menemani hari-hari suka dan duka
bersama kita.

Resapilah kenangan-kenangan manis dan
pahit yang pernah terjadi dengan
menatap wajah-wajah mereka.
Rasakanlah betapa kebahagiaan dan
rasa terharu seketika menerpa jika
mengingat itu semua.

Bayangkanlah apa yang akan terjadi jika
esok mereka "orang-orang terkasih itu"
tak lagi membuka matanya,
untuk selamanya ... "

Friday, August 28, 2009

Dalam Sujud Terakhirku

Dalam sujud terakhirku Ya Allah...
kuteriakkan Asma-Mu sekeras-kerasnya
agar runtuh dinding kesombongan dalam hatiku

Dalam sujud terakhirku Ya Rabbi...
ku menangis sejadi-jadinya
biar kering mata ini
namun basah ladang hati yang gersang

Dalam sujud terakhirku Ya Rahman...
kulihat semua dosa yang membayangiku
kelam mencengkram jiwa yang lusuh

Dalam sujud terakhirku Ya Rahim...
biarkan aku patah dalam cahayaMu
biarkan kumusnahkan titik-titik kemunafikanku
agar ku kembali dalam pelukan hidayahMu

Dalam sujud terakhirku
biarkan aku hirup nafasku sekali lagi
hanya untuk menyebut namaMu dan kekasihMu tercinta


http://www.imannurbalqis.blogspot.com/

Sunday, July 12, 2009

Indahnya malam pertama

Tuk merenungkan indahnya malam pertama

Tapi bukan malam penuh kenikmatan duniawi semata

Bukan malam pertama masuk ke peraduan Adam Dan Hawa

Justeru malam pertama perkahwinan kita dengan Sang Maut

Sebuah malam yang meninggalkan isak tangis sanak saudara

Hari itu... mempelai sangat dimanjakan

Mandipun...harus dimandikan

Seluruh badan Kita terbuka....

Tak ada sehelai benang pun menutupinya. .

Tak ada sedikitpun rasa malu...

Seluruh badan digosok dan dibersihkan

Kotoran dari lubang hidung dan anus dikeluarkan

Bahkan lubang-lubang itupun ditutupi kapas putih...

Itulah sosok Kita.....

Itulah jasad Kita waktu itu

Setelah dimandikan.. ,

Kitapun kan dipakaikan gaun cantik berwarna putih

Kain itu ...jarang orang memakainya..

Karena sangat terkenal bernama Kafan

Wangian ditaburkan kebaju Kita....

Bahagian kepala..,badan. .., dan kaki diikatkan

Tataplah.... tataplah. ..itulah wajah Kita

Keranda pelaminan... . langsung disiapkan

Pengantin bersanding sendirian...

Mempelai diarak keliling kampung yang dihadiri tetangga

Menuju istana keabadian sebagai simbol asal usul

Kita diiringi langkah longlai seluruh keluarga

Serta rasa haru para handai taulan

Gamelan syahdu bersyairkan adzan dan kalimah Dzikir

Akad nikahnya bacaan talkin....

Berwalikan liang lahat..

Saksi-saksinya nisan-nisan. yang telah tiba duluan

Siraman air mawar.. pengantar akhir kerinduan

Dan akhirnya.... tiba masa pengantin..

Menunggu dan ditinggal sendirian,

Tuk mempertanggungjawab kan seluruh langkah kehidupan

Malam pertama yang indah atau meresahkan..

Dite mani rayap-rayap dan cacing tanah

Di kamar bertilamkan tanah..

Dan ketika 7 langkah telah pergi.....

Sang Malaikat lalu bertanya.... ...

Kita tak tahu apakah akan mem peroleh Nikmat Kubur...

Ataukah Kita kan mem peroleh Siksa Kubur.....

Kita tak tahu...Dan tak seorangpun yang tahu....

Tuesday, August 26, 2008

MAHU KE MANA

Kenangilah akan flight kita
One way flight yang tiada jalan pulangnya
Bila pergi……ia akan selamanya
Confirmed flight yang tak perlukan waiting list
Tak perlu booking awal
Tak ada boarding pass yang perlu diambil
Tak ada last call untuk boarding
Tak ada bagasi yang perlu discan
Tak ada nombor tempat duduk yang perlu dicari
Tak ada kelas ekonomi atau VIP
Tak ada senyum manis dari pramugari
Tak ada ‘juice’ dalam perjalanan
Tak ada demo keselamatan
Tak ada bahan bacaan untuk tatapan
Tak terlihat awan yang penuh keindahan
Dan tak ada ucap selamat dari juruterbang
Yang ada…….
Hanya ‘check-in’ dari Izrail
Yang akan datang memanggil
Hanya ucap selamat dari tanah perkuburan
Hanya soalan dari Mungkar dan Nakir yang menggerunkan
Hanya bacaan Talqin yang menginsafkan
Hanya gelombang sakaratul maut yang menyakitkan
Hanya pertarungan ujian dengan syaitan
Yang cuba menyesatkan aqidah dengan seribu penyamaran
Hanya iringan Yasin dan bacaan alQuran
Dari anak yang soleh, rakan dan taulan
Hanya amalan yang akan di ‘scan’
Dengan penuh ‘detail’ dan ketelitian
Walau sebesar zarah akan dihitung
Segala perbuatan kita akan ditanggung
Amalan soleh jadi penjamin
Begitulah adilnya Tuhan
Tidak membiarkan sebarang penganiayaan
Untuk rujukan di liang perkuburan
Jika mulia jadilah taman syurga
Kalau hina…jadilah lubang neraka
Kita confirm akan ke sana
Tak ada yang terlepas dari persoalannya
Awas…..dan beringatlah
Confirm flight akan tiba jua
Bukankah Rasul telah bersabda
“Cukuplah mati sebagai peringatan”
Tiada tiket yang menunjukkan masa
Tiada ‘transit’ di mana-mana
Tanpa mengetahui bilakah masanya
YANG PASTI
Setiap kita akan kembali kepadaNya
Sudah bersediakah kita untuk
ke SANA?

SELAMA MANA


hari demi hari

kematian kian itu kian dekat

teruskah kita terlena

di tempat persinggahan ini

kematian adalah satu kepastian

sebagaiman siang yang bertempoh

akan berganti malam

dan kehidupan yang bertempoh

akan berganti kematian

satu perbatasan untuk menemukan

kehidupan yang kekal abadi

andai cahaya Allah

kau belakangkan

maka duniawi yang kau kejar

bagai kau mengejar bayang-bayang

semakin dikejar semakin lari

dan akhirnya dirimu jua yang rugi

selama mana pun hidup di dunia

tetapi tidak untuk selama-lamanya

mungkin hari ini

esok atau lusa

kita pasti menemui mati

melihat dengan mata biasa

kita mudah tertawan dengan pesona dunia

yang membuat kita leka dan terpedaya

terlupa mati menanti di depan sana

melihatlah dengan mata hati

kenali yang hakiki

tentang adanya kehidupan abadi

selepas kehidupan sementara ini

sementara berada di dunia

waktulah inilah kita dapat sediakan

perbekalan untuk dibawa ke negeri Akhirat

sementara kita masih diberikan usia

waktu inilah kita dapat berbuat amal soleh

RS^
1:30 pm, Ladang Herba

Tuesday, August 19, 2008

INGATLAH MATI ITU MENGEJARMU

Sebagai renungan dan panduan untuk kita bersama...setiap pertemuan pasti ada perpisahan....setiap kehidupan pasti ada kematian.......wallahhua'lam..


Wahai insan di bumi yang serba canggih,
Janganlah kau angan-angan begitu panjang,
Ingatlah kelalaian itu,
Tidak ada kesudahannya...

Bintang-bintang yang menemani hari depanmu,
Satu kehormatan yang ada matlamat,
Dan sekatan ini mesti ada sempadan,
Kini jangan percaya segala perdaya hidup,
Matimu sentiasa menggamit,
Pastikan dirimu tidak diperdaya lagi,
Dalam zaman yang jahiliyah menebus budi.

Renunglah dan ingatlah mati itu,
Tidak dapat lari,
Kecantikan jadi rahsia,
Apa yang lebih berkuasa Maha Kuasa,
Itu semua jambatan yang tiada penghujungnya.

Pada hidup yang serba canggih,
Sudahkah kau bersedia?
Dari liku-liku hidup,
Dari hamba yang daif,
Perjalanan pasti kematian sudahnya.

Kematian satu jadual,
Kamu pasti cinta dan kota,
Dimata tempatnya,
Kiranya ingatanmu,
Sudah menjelang untuk bersedia,
Kesudahanlah segalanya.

(Puisi sahabatku yg tidak nyatakan nama)

Wasiat Rasulullah kepada Muaz

"Wahai Muaz
kuwasiati agar
bertakwa kepada Allah,
berbicara yang benar,
teguh memegang janji,
menyampaikan amanat,
meninggalkan khianat,
mengasihi anak yatim,
menjaga tetangga,
menahan amarah,
berbicara lembut,
memberi salam,
setia pada imam,
memahami al-Quran,
menyukai akhirat,
memprihatinkan hisab,
memendekkan angan-angan,
dan beramal baik.
Serta aku larang engkau
memaki orang Islam,
membenarkan orang dusta,
mendustakan orang benar,
menderhaka imam adil,
dan membuat kerosakan di muka bumi."

Badi' az-Zaman Sa'id alNursi

Dunia ini adalah kitab Allah Yang Maha Abadi. Segala sesuatu di atasnya tidak memberi apa-apa, tetapi ia menggambarkan dan membuktikan kekuasaan dan sifat Penciptanya. Oleh itu tinggalkanlah segala gambaran-gambaran itu dan perhatikanlah apa yang menjadi pengajaran darinya.

Dunia ini adalah perladangan. Oleh itu bercucuk tanamlah dan tuailah hasilnya. Jangan dibiarkan ia dipenuhi semak dan duri dan kekotoran.
Puisi-puisi RS^


ANDAINYA AKU PERGI

Tiada apa yang dapat kukesali
andainya mentari pagi
tidak akan dapat kutatapi
memang itu janjiMu Ya Ilahi
tiap yang hidup pastikan mati.

Tiada apa yang dapat kubekali
hanya amal ibadat duduk di sisi
harta benda tidak bererti
itu semua hiburan seketika
pasti ianya lenyap jua.

Aku tidak mahu ditangisi
andainya aku pergi
tetapi yang aku idami
ampun maaf semua sekali
doa untukku usah dilupai
agar terampun dosa yang kulakui.

Hayati Yahaya

Cantiknya kerana iman dan taqwa,

Ya Allah,
Izinkan daku menjadi sekuntum bunga,
Yang dihiasi dengan kelopak akhlaq mulia,
Harum wanginya dengan ilmu agama,
Cantiknya kerana iman dan taqwa,

Namun keindahan zahirnya ku simpan rapi,
Biar menjadi rahsia yang kekal abadi,
Bukan perhatian mata ajnabi,
Yang menjadi punca fitnah hati,

Ya Allah,
Timbulkanlah duri yang memagari diri,
Agar diriku terpelihara dari noda duniawi,
Yang akan menghilangkan keharuman sejati,
Yang akan memudarkan kecantikan diri,

Disebalik kekurangan yang tercipta,
Bukanlah alasan untuk bermuram durja,
Kerana setiap yang tercipta ada hikmahnya,
Izinkan ya Allah agarku menjadi permata,
Tetap menyinar walau di lumpur hina,
Tetap berharga walau dimana saja,
Buat ummah dan juga keluarga,

Izinkan daku menjadi seindah mawar berduri,
Yang menjadi impian setiap muslimah,
Yang indahnya bukan untuk lelaki,
Tapi permata buat yang bernama suami...


http://nurulfarienaasli87.blogspot.com/

Mengenali Syeikh Abbas Asisi: Penyeru Cinta Dakwah

Thursday, January 22, 2009













Pada tanggal 8 Ramadhan tahun 1425 H bertepatan dengan tanggal 22 Oktober 2004 dakwah Islam telah mengakar di Mesir, Syeikh Abbas As-sisi –rahimahullah- salah seorang tokoh pada tahun 30 an, pemilik institusi khusus dakwah yang dikenali dengan sekolah penuh cinta kerana pemiliknya terkenal dan masyhur dengan seorang yang penuh cinta, murah senyum, hati yang lapang dan terbuka. Beliau merupakan salah seorang dari sekian banyak orang yang tidak pernah kering dengan ideologinya dan amat teguh dalam dakwahnya walau dengan cubaan dan ujian yang berat yang menimpa dakwah di Mesir, bahkan beliau menerimanya dengan penuh cinta, syiar beliau yang paling terkesan adalah “Dakwah kepada Allah adalah cinta” dan bahkan syiar tersebut menjadi judul buku pada sekolah dakwah, dan dikenal oleh banyak generasi bahawa dakwah adalah cinta dan bahawasanya dakwah Islam tidak mengenal kekerasan.

Tentunya tidak asing bahawa beliau memiliki banyak pengikut -25 ribu atau lebih- dari pemuda yang mencintai beliau dan menimba ilmu dan pembinaan di sekolahnya, mendapatkan konsep-konsep tarbiyah yang dianggap telah usang dan konsep-konsep tarbiyahnya yang telah hilang dari banyak generasi di masa awal setelah mereka ditempa tarbiyah ala militer dan nilai-nilai keperajuritan yang keras, yang telah menghabiskan masa muda mereka di balik jeruji besi dan berkunci rapi; sehingga memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap manhaj dakwah ketika berhadapan dengan ujian dan siksaan.

Adapun beliau setelah keluar dari penjara seperti seorang yang lebih muda dari para pemuda lainnya; banyak senyum dan toleran walaupun terhadap musuhnya, dan melalui tangan beliau yang halus dakwah Islam bergerak, khususnya di tengah para pemuda “Jamaah Islam” di beberapa universiti di Mesir, metode dan sekolah beliau menjadi sebab bergabung dan bersatunya -terutama jamaah al-ikhwan al-muslimun pada tahun 70 an-, para ulama seperti Ibrahim Az-Za’farani dan Khalid Daud di Alexandria, Abdul Mun’im Abdul Futuh dan Hilmi Al-Jazar di Kaherah, dan Abu al-Ala Madhi di pedesaan.

Guru para pemuda tentang cinta dan perasaan

Abbas As-sisi merupakan sosok penghubung yang lembut dengan para pemuda terutama saat pecah gerakan kebangkitan Islam pada tahun 70 an yang memiliki pengaruh sangat besar dari terhindarnya para pemuda pada garis keras dengan manhaj dan metode dalam berdakwah kepada Allah yang bijak bijak.

Abbas As-sisi juga memiliki pengaruh yang besar dalam meluruskan etika dan perilaku Islam khususnya di Kota Alexandria -sebagai salah satu pusat kebangkitan yang menjadi medan dakwah yang luas-, mungkin hanya sedikit dari para da’i yang menerapkan kaidah ini dalam perilaku dan interaksi hingga dapat memberikan kelembutan di antara para pemuda dengan dai penyeru perasaan; kerana begitu banyak yang dibicarakan dan ditulis serta dimotivasi sehingga memiliki hubungan dengan beliau.

Abbas As-sisi (1918-2004) merupakan salah seorang da’i generasi awal dalam harakah Islam yang gigih dalam berkomunikasi dengan para pemuda dan memfokuskan dakwah kepada mereka, berinteraksi dengan mereka selama beberapa tahun antara kemajuan dan kemunduran. Beliau memiliki banyak pelajaran yang mampu memberikan pengaruh pada setiap tingkatan. Beliau juga telah menyaksikan kemajuan dakwah Islam pada kurun waktu tahun 80 an yang merambah ke dalam berbagai universiti di seluruh pelusuk kota di Mesir. Sebagaimana beliau juga merupakan salah seorang da’i terkemuka sehingga nadwah yang dihadiri oleh beliau pada tahun 1984 berjumlah 27 nadwah. Sosok yang gigih dalam mensosialisasikan ruh yang lurus dan tawadhu pada diri pemuda, jauh dari pengaruh akibat kemenangan yang mendapat bahaya ketika berkomunikasi langsung dengan para pemuda.

Begitupun muhadhoroh-muhadhoroh beliau di kota Alexandria setelah dimulainya gerakan pengikisan di berbagai universiti Mesir, dan setelah terjadi benturan antara gerakan dan kekuasaan yang berakibatk pada tersosialisasikannya persatuan pelajar, lembaga sosial dan aktiviti di masjid-masjid, memberikan pengaruh besar dalam menenangkan jiwa yang bergolak dan menghilangkan sikap ekstrim, setelah adanya pertemuan dalam muhadhoroh saat itu.

Beliau tidak pernah meremehkan undangan para pemuda untuk berjumpa dengannya, kerana beliau memang gigih dalam menanamkan ruh cinta dan ukhuwah diantara mereka, sebagaimana beliau tidak pernah melewatkan waktu sedikitpun untuk berkunjung, beliau berkata :

“Saya pernah diundang untuk ziarah pada sekumpulan pemuda, dan memakan waktu perjalanan selama 3 jam ! dan ketika tiba, saya dapati mereka telah menyambut saya sambil duduk! Mereka diam seperti batu, perasaan mereka seakan kosong, mata mereka seakan mati, akhirnya salah seorang yang tertua dari mereka menghampiri saya lalu saya sampaikan kepada mereka dengan tanpa perasaan dan ruh. Setelah selesai berbicara mereka berterimakasih kepada saya dan saat saya keluar seakan saya berta’ziyah pada orang yang meninggal!! Lalu saya kembali dengan sedih terhadap apa yang saya saksikan dan lihat!!

Waktupun berjalan; hari demi hari, minggu demi minggu, datang kepada saya salah seorang akh yang mengundang saya sebelumnya, datang mengundang sekali lagi untuk mengunjungi mereka.

Saya katakan kepadanya: Kemana?

Dia berkata: kepada Ihkwah.

Saya katakan kepadanya: apakah mereka ikhwah?

Dia berkata: Ya.

Saya berkata: Mustahil mereka dapat merasakan makna ukhuwah, bagaimana mereka seorang ikhwah…padahal datang kepada mereka seorang tamu, perjalanannya memakan waktu 3 jam, datang dengan penuh kerinduan yang membara, perasaan yang bergelora, dan jiwa yang lapang. Namun mereka menerimanya dengan perasaan yang lesu dan duka. Begitulah kehebatan tokoh ini begitu menghargai dan menghayati nikmat ukhwah dalam berjamaah.


http://tarbiyahpewaris.blogspot.com/2009/01/mengenali-syeikh-abbas-asisi-penyeru.html

Mengenang Pemergian Abbas Assisi

Menjelang buka puasa 11 Ramadhan yang lalu (1425 H) seseorang memberitahu sebuah berita duka. Tiga hari sebelumnya, 8 Ramadhan Ustadz Abbas As-Sisy wafat setelah tidak sedar selama dua minggu dan mendapat perawatan perubatan secara intensif di sebuah hospital di Alexandria.

Jika Allah memuliakan sebahagian tempat atas lainnya. Maka untuk meraih tempat berkah tersebut kita mesti menziarahi ke sana. Selain itu Allah juga meninggikan darjat sebahagian waktu atas yang lainnya. Kita tunggu atau tidak, waktu tersebut akan melewati kita. Dan setelah itu terserah kita. Memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya atau bahkan bersikap tidak acuh dan seolah ia tidak ada.

Apapun sikap kita, Ramadhan telah menemui kita. Ustaz Abbas pun mendapat sebuah kehormatan dipanggil Allah di bulan mulia ini. Meskipun mungkin selama Ramadhan beliau tidak melakukan apa-apa. Tapi bukankah ketika beliau sedar beliau menafkahkan seluruh hidupnya untuk kemaslahatan dakwah Islamiyah. Kerana itu tidak berlebihan seandainya 8 hari beliau di bulan ini dihitung dan dilipatgandakan oleh Allah. Dia lah yang Maha mengetahui. Maha Pengasih yang sangat luas cintanya.

Ustaz Abbas memang tidak sepopular Syeikh Yusuf al-Qaradawy yang buku-bukunya sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa.

Lelaki yang tamat usia pada tahun ke 86 ini mewaqafkan hidupnya untuk sebuah idealisme risalah dakwah. Semasa kecil beliau sangat mahir bermain bolasepak dengan lincah. Beliau bahkan mengaku tidak pernah membayangkan akan boleh menulis. Seperti yang diungkapkannya di mukaddimah Fi Qafilah al-Ikhwan al-Muslimin.

Buku setebal 855 halaman ini merupakan sebagian catatan perjalanan hidupnya. Pertemuannya dengan Hasan al-Banna, teman dan sekaligus gurunya yang mengajarkan kekuatan cinta. Beliau meresapi benar petua sang guru, "Perangilah manusia dengan (senjata) cinta."

Saya baru saja merancang untuk bertemu dengan beliau. Kerana lintasan berbagai peristiwa yang beliau rakam dengan goresan tinta benar-benar sarat pelajaran dan ibrah. Saya belum sempat menamatkannya. Kerana ingin perlahan-perlalan menelusuri sejarah beliau. Kisah yang sangat unik, menarik dan bukan fiktif.

Beliau adalah guru cinta bagi dakwah al-Ikhwan al-Muslimun (IM). Ceramah dan tulisan-tulisannya selalu ditargetkan buat membidik hati. Bukan sekadar menebar pesona dan simpati. Namun, kekuatan karisma, cinta dan rasa persaudaraan yang tinggi.

Beliau adalah "sisa-sisa" generasi awal IM yang melalui hari-hari pahit di balik jeriji dan berbagai intimidasi serta tuduhan stigma subversif. Kegigihannya tidak menjadikan gaya hidup beliau menjadi keras. Sebaliknya, lelaki berambut putih itu selalu menebar senyum untuk siapa saja. Dalam keadaan apa saja. Di mana saja. Jelas, keteduhan yang dalam akan nampak di wajahnya yang meski dimakan usia tapi tetap berseri menawarkan semangat hidup yang tidak pernah padam.

Lihat saja dalam tulisan-tulisannya, ath-Thariq ila al-Qulub (Jalan Menuju Hati), Da'wah ilallahi Hubb, al-Hubb fillah Risalah, adz-Dzauq Suluk ar-Ruh dan lain-lain. Bacalah bukan hanya dengan mata. Hati Anda benar-benar telah ditariknya.

Kegigihan dan keberaniannya tidak pernah diragukan. Beliau terlibat dalam perang dunia 1940 di Gurun Barat (Gharbea). Beberapakali mengalami penangkapan. Dan pada awal 80-an menjadi salah seorang perintis dakwah IM di luar negeri.

Saya sebenarnya kecewa. Tidak ada satu media pun yang memberitakan kepergiannya. Mengulas profilnya untuk diketahui perjuangannya dan dijadikan ruh perubahan. Sabtu, Ahad, Isnin pun berlalu. Tidak satu pun menyebut namanya. Sampai akhirnya saya menemuinya di Tabloid Mingguan Afaq Arabia. Tabloid parti pembangkang ini mengulas panjang profil beliau dan komentar tokoh-tokoh penting IM. Termasuk diantaranya, pimpinan spiritualnya, Syeikh Muhammad Mahdy 'Akif.

IM kehilangan salah satu tokoh pentingnya. Dan umat Islam juga merasakannya. Jasadnya memang tertanam dalam perut bumi. Namun, hatinya selalu hadir di tengah-tengah pada da'i, penerus hasratnya. Sebagaimana hasrat para pendahulunya.

Kini lelaki itu telah pergi. Menjumpai kekasihnya. Meninggalkan kefanaan yang kadang membuat terlena. Dan memasrahkan kebijaksanaan dakwah pada generasi setelahnya. Mahukah kita menyambut tongkat kebijaksanaan dakwah tersebut?

Saiful Bahri

Cairo, 20 Ramadan 1425