Seorang penyair mengatakan:

Setiap penulis pasti akan mati dan berlalu
tetapi waktu akan mengabadikan apa yang ia tulis itu
maka janganlah menulis dengan tulisan tangan Anda
selain yang membuat Anda bergembira
pada Hari Kiamat ketika melihatnya.

Wednesday, July 25, 2012

Pengajaran dari puisi Ya 'Abidal Haramain.

Antara rangkapnya:

"Wahai manusia yang beribadah di Haramain
andaikan engkau melihat kami,
Tentu akan mengerti bahwa engkau bermain-main dalam ibadah,
Dikau yang lehernya bersimpah air mata,
Maka, pangkal leher kami berlimpah darah tertumpah."
Hilal Asyraf(Official)
 

Wednesday, July 18, 2012

Andai Ini Yang Terakhir







Andai Ini Yang Terakhir
Andai kutahu ini Ramadhan terakhir
tentu siangnya sibuk berzikir
tentu tak akan jemu melagukan syair rindu
mendayu...merayu...kepadaNya Tuhan
yang satu

Andai kutahu ini Ramadhan terakhir
tentu solat kukerjakan di awal waktu
solat yang dikerjakan ...sungguh khusyuk
lagi tawaduk
tubuh dan qalbu, bersatu
memperhambakan diri
menghadap Rabbul Jalil....menangisi
kecurangan janji
'Innasolati wanusuki wamahyaya
wamamati lillahirabbil 'alamin'
(sesungguhnya solatku, ibadahku,
hidupku dan matiku...
kuserahkan hanya kepada Allah Tuhan
seru sekalian alam)

Andai kutahu ini Ramadhan terakhir
tidak akan kusiakan walau sesaat yang berlalu
setiap masa tak akan dibiarkan begitu saja
di setiap kesempatan juga masa yang terluang
alunan al-Quran bakal kau dendang...
bakal kau syairkan

Andai kutahu ini Ramadhan terakhir
tentu malammu engkau sibukkan dengan bertarawih
berqiamullail, bertahajud
mengadu...merintih..meminta belas kasihio
"Sesungguhnya aku tidak layak untuk ke SyurgaMu
tapi kujuga tidak sanggup untuk ke NerakaMu"

Andai kutahu ini Ramadhan terakhir
tentu diriku tak akan melupakan yang tersayang
mari kita meriahkan Ramadhan
kita buru...kita cari...suatu malam idaman
yang lebih baik dari seribu bulan

Andai kutahu ini Ramadhan terakhir
tentu kubakal menyediakan batin dan zahir
mempersiapkan diri, rohani dan jasmani
menanti-nanti jemputan Izrail
di kiri dan kanan lorong-lorong redha Ar-Rahman

Duhai Ilahi....
andai ini Ramadhan terakhir buat kami
jadikanlah ia Ramadhan paling bererti
paling berseri menerangi kegelapan hati kami
menyeru ke jalan menuju redha serta
kasih sayangMu Ya Ilahi
semoga bakal mewarnai kehidupan kami
di sana nanti

Namun teman...
tak akan ada manusia yang bakal mengetahui
apakah Ramadhan ini yang terakhir kali
bagi dirinya
yang mampu bagi seorang hamba itu
hanyalah berusaha...bersedia...meminta belasNya

Andai benar ini Ramadhan terakhir buat aku
maafkan semua kesalahan dan kesilapan
yang pernah aku lakukan
"Marhaban Yaa Ramadhan"

( Hayati puisi Andai Ini Yang Terakhir ditulis
Allahyarham Abdul Bar Mohd Khalil yang
meninggal dunia akibat barah hati pada usia
46 tahun, pada Februari 2007,
meninggalkan seorang isteri,
tidak dikurniakan anak )

Nota kaki :
1 Ramadhan 1434 ;10 Julai 2013 
1 Ramadhan 1433; 21 Julai 2012
1 Ramadhan 1432; 1 Ogos 2011
1 Ramadhan 1431; 11 Ogos 2010

Tuesday, July 17, 2012

Puisi Indah - Karya W.S. Rendra


Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku...
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan....
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya...
Mengapa Dia menitipkan padaku ?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah....
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka....
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita....
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku....
Aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil, lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan, seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku....
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika.. ..
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku. ...
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih....
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku. ...
Ya Alloh, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah... .
"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja".

(Puisi terakhir WS Rendra yang ditulis di atas ranjang rumah sakit sebelum ajal menjemputnya)

Monday, July 16, 2012

Prinsip yang benar



Raikanlah kehidupan ini dengan prinsip yang benar 

- Dr Taariq Ramadhan.

Jangan sesekali lupa akan kematian

Kalau kamu mahu hidup dengan baik, maka jangan sesekali lupa akan kematian 


- Dr Taariq Ramadhan.

Dari dan Hanya Untuk-Nya

16/7/2012 | 27 Shaban 1433 H 
Oleh: Rini Zukhruf


dakwatuna.com
Bila Kebahagiaan itu Hadir,
Pastikan Bahwa Hanya Ia yang memberi dan
Hanya kepada Nya Pujian itu terucap,
Bila Ujian itu Datang,
Yakinlah Kehadirannya Bentuk Cinta Allah Kepada Kita,
Bila Dunia ini Penuh Warna,
Pastikan Hanya Keimanan Yang Mewarnai Hati dan
Setiap Perjalanan Hidup kita,
Bila Air Mata ini Mengalir,
Pastikan itu semua
Karena Taubat dan Kecintaan Kepada Nya,
Bila harus Berbagi, Yakinkan pada Hati Bahwa itu semua karena Perintah Nya,
Bila Nafas ini Berhenti, Pastikan Setiap Liku Kehidupan Hanya diisi Oleh Nya,
Tak Pernah Tahu Kejadian yang akan terjadi,
Karna Kita hanya berusaha Menjadi Sebaik – Baik Manusia,
Bermanfaat, Berbagi, Menyebarkan Cinta dan kasih untuk sekitar,
Hanya Allah sang Penjaga setiap Aktivitas kita,
Hanya Allah jua Sebaik – Baik Penolong dan Tempat Bergantung
Tersenyum terhadap Setiap apa yang terjadi,
Karena dibalik setiap Peristiwa,
Allah selalu berikan Senyuman untuk Kita,
agar kita menjadi lebih dekat dengan Nya

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/07/21633/dari-dan-hanya-untuk-nya/#ixzz20mdIcuWX

Thursday, July 12, 2012

aku tak muda lagi

aku tak muda lagi
tika muda telah kugarap puisi-puisi
biar tiada siapa kongsi baca
pasti aku yang baca sendiri
tika aku tak muda lagi
baru aku sempat kenal
puisi-puisi Hlovate

tika aku muda lagi

aku sempat kenal
puisi-puisi
Sayyid Qutb
Muhammad Iqbal
Chairil Anwar
Kemala
T.Alias Taib
W.S Rendra
semua mereka telah pergi
kecuali Kemala

aku tak muda lagi

namun aku akan terus berbicara
dengan puisi-puisiku
sebelum aku juga akan pergi

catatan spontan
10:11 pagi; 13/07/2012
Simpang Renggam

Wahai bonda tersayang.



 “Setiap kali engkau asyik mendengar tilawah al-Quran dari belakang tabir oleh para Qurra”
 yang datang mengaji ke rumah kita di sepanjang bulan Ramadhan,
 seandainya aku tercuai dan ingin bermain-main seperti kanak-kanak yang lain,
 engkau akan mengisyaratkan kepadaku dengan tegas sehingga aku terdiam 
dan turut menyertaimu mendengar bacaan itu.
 Dari situlah jiwaku mula meneguk irama al-Quran
 walaupun dengan usiaku yang masih kecil,
 belum mampu memahami makna bacaan itu…

Ketika aku membesar di dalam penjagaanmu
, aku telah dihantar ke Madrasah Awwaliyyah di kampung.
 Harapan terbesarmu kepadaku adalah supaya Allah
 membukakan jalan kemudahan bagiku oleh Allah
 untuk aku menghafaz al-Quran dan direzekikan kepadaku
 suara yang lunak untuk membacanya. 
Sesungguhnya semenjak itu 
aku sentiasa membacakan al-Quran bagimu

 di setiap masa dan setiap ketika…
Kini engkau telah pergi meninggalkanku,
 wahai bonda tersayang.
 Gambaran terakhir dirimu yang sentiasa segar di ingatanku 
adalah samar-samar dirimu yang sering duduk di hadapan radio,
 mendengar keindahan bacaan-bacaan al-Quran.
 Amat jelas pada lekuk-lekuk wajahmu yang mulia,
 tanda-tanda mendalamnya ertimu
 terhadap makna yang tersurat lagi tersirat kalimah al-Quran itu, 
dengan hatimu yang agung dan perasaan halusmu yang merenung.”

 [ms 5, at-Taswir al-Fanni fi al-Quran, Dar ash-Shurooq, tanpa tarikh].

http://saifulislam.com/?p=301

Sajak Hassan alBanna

‘Farid, tidurlah engkau dalam aman dan Iman;
Janganlah engkau terpinga dengan tanah air mu;
Farid, semoga setiap ujian adalah pengorbanan untuk mu.’

Tuesday, July 10, 2012

Saat tersembunyi maupun teramati manusia

Saat kita sendiri maupun bersama
Saat sunyi maupun riuh
Saat tersembunyi maupun teramati manusia
Di pojok kamar yang sempit maupun di lapangan luas
Semua tercatat dan terekam
Lalu bertanyalah kita:
Rekaman itu dipenuhi maksiat atau taat?

(Salim A Fillah: Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim)

Monday, July 9, 2012

Anggaplah setiap hari adalah hari-hari terakhir


Anggaplah setiap hari adalah hari-hari terakhir
jika kita tahu esok kita sudah tiada..
pasti kita lebih bersungguh dari biasa
pasti kita temui esok kita sudah tiada
cuma kita tidak tahu bila
antara kita ke garisan ajal semakin dekat,
tak pernah semakin jauh
semakin jauh kita dari kehidupan
pastikan bertambah bekalan untuk kita kembali bertemuNya

Bersiap-siaplah sebelum kita dikembalikan
Persiapan hanya di sini
di sana hanya pembalasan

Bersiap-siaplah dengan bekalan
yang boleh dibawa bersama
kerana banyak yang kita nikmati
terpaksa jua ditinggalkan


Penghujung hidup di dunia adalah mati.
Tapi hidup di Akhirat tiada penghujungnya.

Selama mana pun hidup di dunia.
Tetap tiada yang selama-lamanya.

Usah koyakkan Akhirat, kerana mahukan dunia.
Dunia yang dikejar, pasti ditinggalkan.
Mahukan nikmat yang seketika atau yang berkekalan.
Pilihan hanya ketika hayat masih ada.
Bila hayat diberi telah habis
pasrahlah dengan balasan 

Hidup di antara impian dan realiti

Hidup di antara impian dan realiti
Hidup akhirnya kita terpaksa akur pada yang hakiki

Impian yang telah berlalu
itulah yang tidak kesampaian
impian yang akan datang
itulah yang boleh dibina keazaman

Impian yang tidak kesampaian
itulah bukan takdir buat kita
setiap yang kita katakan 'kalaulah'
sememangnya ia tidak ditakdirkanNya
ucapan 'kalau' sekadar menjemput bisikan syaitan
agar tiada redha terhadap takdirNya

Setiap yang telah terjadi
itulah takdir sebenar buat kita
tetapi kita tetap punya pilihan
sebelum takdir ditentukan buat kita
maka hikmahlah dalam memilih
selagi hayat masih ada
kerana bila hayat telah tiada
tiada lagi pilihan buat kita
hidup berdepan pilihan
pilihlah yang terbaik
moga beroleh takdir yang diharapkan
usah disalahkan takdir
bila kita sendiri berbuat pilihan yang salah

Bila pilihan terbaik telah diusahakan
berserahlah jua pada takdirNya
agar kita tidak kecewa
bila takdir tidak menepati impian
hidup antara pilihan dan takdirNya
tiada yang lebih terbaik
kecuali redha dengan setiap takdirNya
setelah membuat pilihan dan usaha yang terbaik
jika kita impikan kejayaan
mengapa pilih jalan menuju kesengsaraan
jika kita impikan bahagia
mengapa pilih jalan menuju derita
jika kita impikan ketenangan
mengapa pilih jalan menuju kegelisahan

Apakah yang lebih membahagiakan
bila kita puas dengan takdirNya
tanpa menyesali apa yang tidak ditakdirkanNya


Friday, July 6, 2012

Tasawuf Cinta

6/7/2012 | 17 Shaban 1433 H
Oleh: Awan



dakwatuna.com
Aku bukan pejuang cinta…
Jika kau meminta dalam setiap syarafku ada pikir tentangmu
Jika kau mensyaratkan jeruji bagi kesungguhanku
Jika kau menginginkan taman-taman surga kubawa ke dalam pangkuanmu
Jika kau menuntut separuh jiwa ini bersemayam dalam kalbumu
Aku bukan begitu dan begitu bukanlah aku
Bagiku cinta itu sederhana…
Sesederhana tetes air mata yang mengalir tanpa kau memintanya
Sesederhana Merpati yang tetap kembali ke peraduan tanpa kau harus mengurungnya
Sesederhana Mawar yang tak mensyaratkan indahnya taman sebagai tempat tumbuhnya
Sesederhana udara yang tak menuntut apapun padahal ia ada dalam setiap nafasmu
begitulah aku dan inginku begitu
Karena dalam cinta yang kutahu…
Bagaimana hanya sarafku saja tentangmu sedangkan engkau adalah aku dan aku adalah engkau
Bagaimana hanya jeruji saja yang memenjaraku sedang kan diriku telah kuserahkan kepadamu
Bagaimana hanya taman saja sedang kan bersamamu hariku adalah surga
Dan bagaimana hanya separuh jiwa saja yang kau minta sedangkan tak lagi ada jiwa dalam jasad ini yang kutahu selain yang ada padamu
dalam cintaku… Engkaulah jiwaku
masihkah kau meragu? Cinta…

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/07/21490/tasawuf-cinta/#ixzz1zpq4y7sw

Wednesday, July 4, 2012

Banyak sekali mutiara yang menyilaukan pandangan



Banyak sekali mutiara yang menyilaukan pandangan
dengan cahaya yang jernih dan cantik,
tapi ia merendahkan diri
dengan bertempat di gua-gua di dasar lautan yang gelap.
Banyak sekali bunga yang setia
menempel pada batangnya di padang pasir,
menebarkan bau harumnya
bersama dengan bertebarannya debu di padang sahara.
Seandainya kedua hal tersebut ditemukan dan diketahui orang,
maka keadaan mereka berdua akan lain sekali.

Wasiat Rasulullah kepada Muaz

"Wahai Muaz
kuwasiati agar
bertakwa kepada Allah,
berbicara yang benar,
teguh memegang janji,
menyampaikan amanat,
meninggalkan khianat,
mengasihi anak yatim,
menjaga tetangga,
menahan amarah,
berbicara lembut,
memberi salam,
setia pada imam,
memahami al-Quran,
menyukai akhirat,
memprihatinkan hisab,
memendekkan angan-angan,
dan beramal baik.
Serta aku larang engkau
memaki orang Islam,
membenarkan orang dusta,
mendustakan orang benar,
menderhaka imam adil,
dan membuat kerosakan di muka bumi."

Badi' az-Zaman Sa'id alNursi

Dunia ini adalah kitab Allah Yang Maha Abadi. Segala sesuatu di atasnya tidak memberi apa-apa, tetapi ia menggambarkan dan membuktikan kekuasaan dan sifat Penciptanya. Oleh itu tinggalkanlah segala gambaran-gambaran itu dan perhatikanlah apa yang menjadi pengajaran darinya.

Dunia ini adalah perladangan. Oleh itu bercucuk tanamlah dan tuailah hasilnya. Jangan dibiarkan ia dipenuhi semak dan duri dan kekotoran.
Puisi-puisi RS^


ANDAINYA AKU PERGI

Tiada apa yang dapat kukesali
andainya mentari pagi
tidak akan dapat kutatapi
memang itu janjiMu Ya Ilahi
tiap yang hidup pastikan mati.

Tiada apa yang dapat kubekali
hanya amal ibadat duduk di sisi
harta benda tidak bererti
itu semua hiburan seketika
pasti ianya lenyap jua.

Aku tidak mahu ditangisi
andainya aku pergi
tetapi yang aku idami
ampun maaf semua sekali
doa untukku usah dilupai
agar terampun dosa yang kulakui.

Hayati Yahaya

Cantiknya kerana iman dan taqwa,

Ya Allah,
Izinkan daku menjadi sekuntum bunga,
Yang dihiasi dengan kelopak akhlaq mulia,
Harum wanginya dengan ilmu agama,
Cantiknya kerana iman dan taqwa,

Namun keindahan zahirnya ku simpan rapi,
Biar menjadi rahsia yang kekal abadi,
Bukan perhatian mata ajnabi,
Yang menjadi punca fitnah hati,

Ya Allah,
Timbulkanlah duri yang memagari diri,
Agar diriku terpelihara dari noda duniawi,
Yang akan menghilangkan keharuman sejati,
Yang akan memudarkan kecantikan diri,

Disebalik kekurangan yang tercipta,
Bukanlah alasan untuk bermuram durja,
Kerana setiap yang tercipta ada hikmahnya,
Izinkan ya Allah agarku menjadi permata,
Tetap menyinar walau di lumpur hina,
Tetap berharga walau dimana saja,
Buat ummah dan juga keluarga,

Izinkan daku menjadi seindah mawar berduri,
Yang menjadi impian setiap muslimah,
Yang indahnya bukan untuk lelaki,
Tapi permata buat yang bernama suami...


http://nurulfarienaasli87.blogspot.com/

Mengenali Syeikh Abbas Asisi: Penyeru Cinta Dakwah

Thursday, January 22, 2009













Pada tanggal 8 Ramadhan tahun 1425 H bertepatan dengan tanggal 22 Oktober 2004 dakwah Islam telah mengakar di Mesir, Syeikh Abbas As-sisi –rahimahullah- salah seorang tokoh pada tahun 30 an, pemilik institusi khusus dakwah yang dikenali dengan sekolah penuh cinta kerana pemiliknya terkenal dan masyhur dengan seorang yang penuh cinta, murah senyum, hati yang lapang dan terbuka. Beliau merupakan salah seorang dari sekian banyak orang yang tidak pernah kering dengan ideologinya dan amat teguh dalam dakwahnya walau dengan cubaan dan ujian yang berat yang menimpa dakwah di Mesir, bahkan beliau menerimanya dengan penuh cinta, syiar beliau yang paling terkesan adalah “Dakwah kepada Allah adalah cinta” dan bahkan syiar tersebut menjadi judul buku pada sekolah dakwah, dan dikenal oleh banyak generasi bahawa dakwah adalah cinta dan bahawasanya dakwah Islam tidak mengenal kekerasan.

Tentunya tidak asing bahawa beliau memiliki banyak pengikut -25 ribu atau lebih- dari pemuda yang mencintai beliau dan menimba ilmu dan pembinaan di sekolahnya, mendapatkan konsep-konsep tarbiyah yang dianggap telah usang dan konsep-konsep tarbiyahnya yang telah hilang dari banyak generasi di masa awal setelah mereka ditempa tarbiyah ala militer dan nilai-nilai keperajuritan yang keras, yang telah menghabiskan masa muda mereka di balik jeruji besi dan berkunci rapi; sehingga memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap manhaj dakwah ketika berhadapan dengan ujian dan siksaan.

Adapun beliau setelah keluar dari penjara seperti seorang yang lebih muda dari para pemuda lainnya; banyak senyum dan toleran walaupun terhadap musuhnya, dan melalui tangan beliau yang halus dakwah Islam bergerak, khususnya di tengah para pemuda “Jamaah Islam” di beberapa universiti di Mesir, metode dan sekolah beliau menjadi sebab bergabung dan bersatunya -terutama jamaah al-ikhwan al-muslimun pada tahun 70 an-, para ulama seperti Ibrahim Az-Za’farani dan Khalid Daud di Alexandria, Abdul Mun’im Abdul Futuh dan Hilmi Al-Jazar di Kaherah, dan Abu al-Ala Madhi di pedesaan.

Guru para pemuda tentang cinta dan perasaan

Abbas As-sisi merupakan sosok penghubung yang lembut dengan para pemuda terutama saat pecah gerakan kebangkitan Islam pada tahun 70 an yang memiliki pengaruh sangat besar dari terhindarnya para pemuda pada garis keras dengan manhaj dan metode dalam berdakwah kepada Allah yang bijak bijak.

Abbas As-sisi juga memiliki pengaruh yang besar dalam meluruskan etika dan perilaku Islam khususnya di Kota Alexandria -sebagai salah satu pusat kebangkitan yang menjadi medan dakwah yang luas-, mungkin hanya sedikit dari para da’i yang menerapkan kaidah ini dalam perilaku dan interaksi hingga dapat memberikan kelembutan di antara para pemuda dengan dai penyeru perasaan; kerana begitu banyak yang dibicarakan dan ditulis serta dimotivasi sehingga memiliki hubungan dengan beliau.

Abbas As-sisi (1918-2004) merupakan salah seorang da’i generasi awal dalam harakah Islam yang gigih dalam berkomunikasi dengan para pemuda dan memfokuskan dakwah kepada mereka, berinteraksi dengan mereka selama beberapa tahun antara kemajuan dan kemunduran. Beliau memiliki banyak pelajaran yang mampu memberikan pengaruh pada setiap tingkatan. Beliau juga telah menyaksikan kemajuan dakwah Islam pada kurun waktu tahun 80 an yang merambah ke dalam berbagai universiti di seluruh pelusuk kota di Mesir. Sebagaimana beliau juga merupakan salah seorang da’i terkemuka sehingga nadwah yang dihadiri oleh beliau pada tahun 1984 berjumlah 27 nadwah. Sosok yang gigih dalam mensosialisasikan ruh yang lurus dan tawadhu pada diri pemuda, jauh dari pengaruh akibat kemenangan yang mendapat bahaya ketika berkomunikasi langsung dengan para pemuda.

Begitupun muhadhoroh-muhadhoroh beliau di kota Alexandria setelah dimulainya gerakan pengikisan di berbagai universiti Mesir, dan setelah terjadi benturan antara gerakan dan kekuasaan yang berakibatk pada tersosialisasikannya persatuan pelajar, lembaga sosial dan aktiviti di masjid-masjid, memberikan pengaruh besar dalam menenangkan jiwa yang bergolak dan menghilangkan sikap ekstrim, setelah adanya pertemuan dalam muhadhoroh saat itu.

Beliau tidak pernah meremehkan undangan para pemuda untuk berjumpa dengannya, kerana beliau memang gigih dalam menanamkan ruh cinta dan ukhuwah diantara mereka, sebagaimana beliau tidak pernah melewatkan waktu sedikitpun untuk berkunjung, beliau berkata :

“Saya pernah diundang untuk ziarah pada sekumpulan pemuda, dan memakan waktu perjalanan selama 3 jam ! dan ketika tiba, saya dapati mereka telah menyambut saya sambil duduk! Mereka diam seperti batu, perasaan mereka seakan kosong, mata mereka seakan mati, akhirnya salah seorang yang tertua dari mereka menghampiri saya lalu saya sampaikan kepada mereka dengan tanpa perasaan dan ruh. Setelah selesai berbicara mereka berterimakasih kepada saya dan saat saya keluar seakan saya berta’ziyah pada orang yang meninggal!! Lalu saya kembali dengan sedih terhadap apa yang saya saksikan dan lihat!!

Waktupun berjalan; hari demi hari, minggu demi minggu, datang kepada saya salah seorang akh yang mengundang saya sebelumnya, datang mengundang sekali lagi untuk mengunjungi mereka.

Saya katakan kepadanya: Kemana?

Dia berkata: kepada Ihkwah.

Saya katakan kepadanya: apakah mereka ikhwah?

Dia berkata: Ya.

Saya berkata: Mustahil mereka dapat merasakan makna ukhuwah, bagaimana mereka seorang ikhwah…padahal datang kepada mereka seorang tamu, perjalanannya memakan waktu 3 jam, datang dengan penuh kerinduan yang membara, perasaan yang bergelora, dan jiwa yang lapang. Namun mereka menerimanya dengan perasaan yang lesu dan duka. Begitulah kehebatan tokoh ini begitu menghargai dan menghayati nikmat ukhwah dalam berjamaah.


http://tarbiyahpewaris.blogspot.com/2009/01/mengenali-syeikh-abbas-asisi-penyeru.html

Mengenang Pemergian Abbas Assisi

Menjelang buka puasa 11 Ramadhan yang lalu (1425 H) seseorang memberitahu sebuah berita duka. Tiga hari sebelumnya, 8 Ramadhan Ustadz Abbas As-Sisy wafat setelah tidak sedar selama dua minggu dan mendapat perawatan perubatan secara intensif di sebuah hospital di Alexandria.

Jika Allah memuliakan sebahagian tempat atas lainnya. Maka untuk meraih tempat berkah tersebut kita mesti menziarahi ke sana. Selain itu Allah juga meninggikan darjat sebahagian waktu atas yang lainnya. Kita tunggu atau tidak, waktu tersebut akan melewati kita. Dan setelah itu terserah kita. Memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya atau bahkan bersikap tidak acuh dan seolah ia tidak ada.

Apapun sikap kita, Ramadhan telah menemui kita. Ustaz Abbas pun mendapat sebuah kehormatan dipanggil Allah di bulan mulia ini. Meskipun mungkin selama Ramadhan beliau tidak melakukan apa-apa. Tapi bukankah ketika beliau sedar beliau menafkahkan seluruh hidupnya untuk kemaslahatan dakwah Islamiyah. Kerana itu tidak berlebihan seandainya 8 hari beliau di bulan ini dihitung dan dilipatgandakan oleh Allah. Dia lah yang Maha mengetahui. Maha Pengasih yang sangat luas cintanya.

Ustaz Abbas memang tidak sepopular Syeikh Yusuf al-Qaradawy yang buku-bukunya sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa.

Lelaki yang tamat usia pada tahun ke 86 ini mewaqafkan hidupnya untuk sebuah idealisme risalah dakwah. Semasa kecil beliau sangat mahir bermain bolasepak dengan lincah. Beliau bahkan mengaku tidak pernah membayangkan akan boleh menulis. Seperti yang diungkapkannya di mukaddimah Fi Qafilah al-Ikhwan al-Muslimin.

Buku setebal 855 halaman ini merupakan sebagian catatan perjalanan hidupnya. Pertemuannya dengan Hasan al-Banna, teman dan sekaligus gurunya yang mengajarkan kekuatan cinta. Beliau meresapi benar petua sang guru, "Perangilah manusia dengan (senjata) cinta."

Saya baru saja merancang untuk bertemu dengan beliau. Kerana lintasan berbagai peristiwa yang beliau rakam dengan goresan tinta benar-benar sarat pelajaran dan ibrah. Saya belum sempat menamatkannya. Kerana ingin perlahan-perlalan menelusuri sejarah beliau. Kisah yang sangat unik, menarik dan bukan fiktif.

Beliau adalah guru cinta bagi dakwah al-Ikhwan al-Muslimun (IM). Ceramah dan tulisan-tulisannya selalu ditargetkan buat membidik hati. Bukan sekadar menebar pesona dan simpati. Namun, kekuatan karisma, cinta dan rasa persaudaraan yang tinggi.

Beliau adalah "sisa-sisa" generasi awal IM yang melalui hari-hari pahit di balik jeriji dan berbagai intimidasi serta tuduhan stigma subversif. Kegigihannya tidak menjadikan gaya hidup beliau menjadi keras. Sebaliknya, lelaki berambut putih itu selalu menebar senyum untuk siapa saja. Dalam keadaan apa saja. Di mana saja. Jelas, keteduhan yang dalam akan nampak di wajahnya yang meski dimakan usia tapi tetap berseri menawarkan semangat hidup yang tidak pernah padam.

Lihat saja dalam tulisan-tulisannya, ath-Thariq ila al-Qulub (Jalan Menuju Hati), Da'wah ilallahi Hubb, al-Hubb fillah Risalah, adz-Dzauq Suluk ar-Ruh dan lain-lain. Bacalah bukan hanya dengan mata. Hati Anda benar-benar telah ditariknya.

Kegigihan dan keberaniannya tidak pernah diragukan. Beliau terlibat dalam perang dunia 1940 di Gurun Barat (Gharbea). Beberapakali mengalami penangkapan. Dan pada awal 80-an menjadi salah seorang perintis dakwah IM di luar negeri.

Saya sebenarnya kecewa. Tidak ada satu media pun yang memberitakan kepergiannya. Mengulas profilnya untuk diketahui perjuangannya dan dijadikan ruh perubahan. Sabtu, Ahad, Isnin pun berlalu. Tidak satu pun menyebut namanya. Sampai akhirnya saya menemuinya di Tabloid Mingguan Afaq Arabia. Tabloid parti pembangkang ini mengulas panjang profil beliau dan komentar tokoh-tokoh penting IM. Termasuk diantaranya, pimpinan spiritualnya, Syeikh Muhammad Mahdy 'Akif.

IM kehilangan salah satu tokoh pentingnya. Dan umat Islam juga merasakannya. Jasadnya memang tertanam dalam perut bumi. Namun, hatinya selalu hadir di tengah-tengah pada da'i, penerus hasratnya. Sebagaimana hasrat para pendahulunya.

Kini lelaki itu telah pergi. Menjumpai kekasihnya. Meninggalkan kefanaan yang kadang membuat terlena. Dan memasrahkan kebijaksanaan dakwah pada generasi setelahnya. Mahukah kita menyambut tongkat kebijaksanaan dakwah tersebut?

Saiful Bahri

Cairo, 20 Ramadan 1425